Beranda
ai
berita
Bukan Ancaman Pekerjaan, Bos Google Ungkap Risiko Terbesar AI Ada pada Penyalahgunaan dan Batasan
Didik Supriyanto
Juni 09, 2025

Bukan Ancaman Pekerjaan, Bos Google Ungkap Risiko Terbesar AI Ada pada Penyalahgunaan dan Batasan

 

AI, ancaman atau peluang

DigiSinc – Dalam perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI), kekhawatiran akan hilangnya jutaan pekerjaan manusia menjadi topik hangat. Namun, para pemimpin di balik raksasa teknologi seperti Google memiliki pandangan yang berbeda mengenai risiko terbesar yang ditimbulkan oleh AI. Menurut CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, dan juga diperkuat oleh CEO Alphabet (induk Google), Sundar Pichai, ancaman terbesar AI bukanlah pada hilangnya pekerjaan, melainkan pada potensi penyalahgunaan dan tantangan dalam menjaga kendali atas teknologi yang semakin canggih ini.

Hassabis secara tegas menyatakan bahwa risiko terbesar AI ada pada kemungkinan jatuh ke tangan yang salah, serta kompleksitas dalam menetapkan batasan untuk memastikan AI tetap bertindak secara otonom tanpa melampaui batas yang diinginkan. "Kedua risiko tersebut penting dan menantang," ujar Hassabis dalam sebuah wawancara dengan CNN International, sebagaimana dilansir oleh CNN Indonesia. Ia menekankan perlunya batasan yang ketat terhadap sistem AI untuk mencegah penyelewengan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

Senada dengan Hassabis, Sundar Pichai juga kerap mengungkapkan optimisme terhadap AI sebagai alat pendorong produktivitas dan pencipta peluang baru, alih-alih sebagai penghilang pekerjaan. Pichai melihat AI sebagai "akselerator" yang akan mendorong pengembangan produk baru dan bahkan menciptakan permintaan untuk lebih banyak karyawan. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan bahwa AI akan meningkatkan kemampuan manusia, membuat individu lebih produktif, dan lebih kreatif, bukan menggantikan peran mereka.

Pandangan ini didukung oleh keyakinan bahwa meskipun AI dapat mengotomatisasi tugas-tugas repetitif, hal ini justru akan membebaskan manusia untuk fokus pada pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah kreatif, desain, dan inovasi. Google sendiri, di bawah kepemimpinan Pichai, berencana untuk merekrut lebih banyak insinyur seiring dengan kemajuan AI, karena "ruang peluang dari apa yang bisa kita lakukan semakin meluas."

Namun, kekhawatiran mengenai penyalahgunaan AI bukanlah tanpa dasar. Laporan sebelumnya telah menunjukkan adanya aksi peretas yang menggunakan AI untuk mencari mangsa, bahkan membuat pesan suara palsu yang mirip dengan pejabat pemerintah. Selain itu, AI juga disalahgunakan untuk membuat konten pornografi palsu atau deepfake porn.

Oleh karena itu, fokus utama para pemimpin AI Google adalah pada pengembangan AI yang bertanggung jawab, termasuk investasi dalam teknologi deteksi deepfake dan penandaan air pada gambar yang dihasilkan AI, serta pengembangan alat deteksi open-source untuk melawan misinformasi. Mereka percaya bahwa dengan regulasi yang tepat, standar global, dan pendekatan yang bertanggung jawab, AI dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kemajuan manusia.

Penulis blog

Tidak ada komentar